12.19.2006

Portable Music Player

http://6ix2o9ine.blogspot.com

Siapa sih yang tak kenal musik? Bila telinganya berfungsi dengan normal, dapat dipastikan pasti mengenal musik. Selain itu, toh musik tidak melulu seperti yang kita biasa dengar. Bila musik didefinisikan dengan adanya irama, maka ikan paus menurut para ahli biologi kelautan pun mengenal musik.Tapi tentu saja ikan paus tidak memerlukan portable music player seperti manusia. Setidaknya sampat saat ini.

Portable Music Player (PMP) adalah salah satu temuan revolusioner yang mengubah wajah peradaban dewasa ini. Kebutuhan manusia untuk menghibur dirinya dengan musik tampaknya merupakan alasan utama terciptanya gadget ini. PMP dewasa ini dapat ditemui dlam berbagai ukuran, bentuk dan format, harga dan kualitas.

Semuanya dimulai saat Sony memperkenalkan Walkman di jalanan Ginza Tokyo di akhir 70-an. Akio Morita, sang godfather Sony Corp. yang pecinta berat musik, saat itu menginginkan sebuah PMP yang ringan, ringkas, dan murah. Lalu bersama para ahli di Sony, Akio Morita berhasil mewujudkan Walkman. Sebuah piranti pemutar musik dengan media kaset yang segera saja menjadi wabah di dunia. Siapa sangka, walkman kini menjadi nama generik untuk setiap PMP yang menggunakan kaset. Tak peduli apapun merknya, PMP tersebut dipanggil dengan nama Walkman. Sama nasibnya dengan Handycam untuk Camcorder, aqua untuk air minum kemasan, silet untuk pisay cukur.

Tahun 2000, adalah era booming gadget digital. Harga yang semakin murah dan kinerja yang semakin baik, membuat gadget digital mulai menjadi kebutuhan wajib untuk setiap orang. Ponsel (HP), kamera digital, televisi, radio, komputer, microwave, kulkas, dan banyak barang lama kelamaan dibirancang dan dibuat dengan menggunakan teknologi digital. Termasuk di dalamnya PMP.

Untuk PMP sendiri, revolusi terbesar adalah dengan ditemukan format MP3 (Motion Picture Experts Group 1, Audio Layer 3) di awal 1990an. Di mana pada saat itu orangbisa mendoenload lagu dari internet. Tentu saja awal tahun 90an di Eropa atau di Amerika sana. Sebab sepanjang yang saya ingat, format MP3 baru mulai banyak dibicarakan umum di Indonesia sekitar tahun 1995-1996. Itupun masih perlu komputer yang cukup tangguh. Seingat saya, minimal komputer setara Pentium 1 yang dapat memaiknkan musik dengan baik. PC dengan prosesor intel 486DX masih terengah-engah memainkan mp3.

Kini, format mp3 adalah format yang umum digunakan. Walau ada format terbaru AAc, Ogg Vorbis, dan lainnya yang dikeluarkan untuk menyaingi MP3, tetapi MP3 masih yang terpopuler. Setidaknya di Indonesia, di mana bisnis musik bajakan adalah pemandangan umum sehari-hari. Berbagai macam pemutar MP3 dapat ditemui. Baik itu berbentuk PMP seperti iPod, Creative Zen, atau dalam CD/VCD/DVD player. Bahkan kinio pun ermunculan ponsel yang selain dilengkapi kamera, juga dilengkapi PMP. Kualitas suara? Boleh diadu dengan stereo set hi-fi berat besar dan mahal yang pernah dipakai bapak-bapak atau kakak kita di tahun 1980-1990an. Suaranya lebih dari cukup. Keren!

Saat bekerja di Balikpapan, saya membeli 2 PMP. Yang pertama Portable CD Player, yang kedua USB Digital Music Player. Yang pertama, sperti halnya walkman, terlalu besar untuk di simpan di kantong celana, boros daya (2XAA Baterry), dan sering skip bila dibawa jalan. Selain itu tidak ada radio dan LCDnya hanya mampu membaca nomor track/angka, bukan judul/alfabet. Tapi mainan yang ini tidak tergantung pada komputer serta dapat memutar VCD. Kapasitasnya bisa untuk memainkan sapai 150 lagu dengan asumsi satu keping CD 700MB dapat memuat 150 lagu. Bila bosan CD lama, tinggal pergi ke kali lima, bisa beli CD bajakan terbaru dengan lagu-lagu baru juga.

Yang kedua, merk murah meriah, ukurannya kecil, lk. sebesar 2 ibu jari dewasa, ringan, mudah ditenteng, trendy, dan hemat daya (1XAAA baterry). Gadget yang kedua ini kapasitasnya hanya 512 MB, cukuplah untuk menampung 100-120 lagu mp3, sangat tergantung komputer untuk pengadaan lagu, tapi memiliki di dalamnya terdapat radio FM, voice recorder, serta dapat menapilkan nama artis dan judul lagu. Kelebihan lain, dapat dijadikan USB Stick/Flashdisk untuk menyimpan dan membawa data digital.

Tebak berapa harganya? Berkisar Rp, 225 Ribu rupiah untuk masing-masing gadget! Harga yang sangat murah untuk teknologi terbaru. Bayangkan, tahun 1994 saya pernah membeli Walkman Sony lengkap dengan radio dan recorder, juga dengan harga berkisar di Rp. 225.000!!! Bahkan, mungkin saat ini khusus untuk Digital PMP, dengan harga yang sama mungkin sudah didapat kapasitas yang lebih besar.

Yeah-yeah-yeahs, permasalahan yang utama adalah: alat-alat digital, termasuk MP3 Player, adalah piranti yang rentan dengan aktivitas pembajakan. Coba, siapa sih yang permah beli CD atau MP3 Orisinil? Seingat saya, terakhir kali saya membeli CD Audio orisinil adalah saat membeli album Iwan Fals du tahun 2003. Kaset terakhir yang saya beli adalah Forty Licks-nya Rolling Stones, Sinten Remen, dan Naif. Semuanya di tahun 2003, saat saya masih memakai 'walkman'Aiwa.

Sekarang? Uh, seperti saya bilang, tinggal jalan sebentar ke kaki lima. Beli CD MP3 bajakan, copy ke komputer, lalu copy ke Digital PMP. Beres. Atau, 'ngacak-ngacak' komputer teman, cari folder koleksi MP3nya, copy ke CD atau Digital PMP. Beres.BAhkan sringkali ada 'bonusnya': foto-foto porno atau video porno. Yeah, dunia digital, memang merevolusi banyak hal...

No comments: